Salah satu tips menikmati sebuah perjalanan baru adalah dengan melupakan pengalaman perjalanan-perjalanan lainnya. (karena kali ini ngomong perjalanan, jadi aku gak akan menyambungkan kalimat pertama dengan konteks relationship/komitmen/pernikahan atau apapun. ntar jadi panjang ceritanya kawan..)
Perjalanan baru persis seperti cerita baru dimana kita sendiri yang menjadi bintang utama, penulis skenario, pengarah gaya, kamerawan, storyboard, sutradara, editor (ah berlebihan..kalo ini mah curhat bikin videoklip–doakan berhasil jadi sebuah videoklip, apapun bentuknya–alhamdulillah udah jadi, baca blog sebelumnya)
Perjalanan 2 malam 3 hari ini dimulai dari Pekanbaru, 20.00wib. Konvoi 9 mobil mengangkut sekitar 60an dewasa dan anak-anak. Kami mampir di BandrekHouse (sayang gak ambil gambarnya), sebelum masuk Payakumbuh (payakumbuah?) sekitar dini hari. Seharusnya dari sana terlihat malaka, tapi ya karena jam segitu, tak terlihat olehku. Bandrek Telur (talua) menjadi pilihanku, ditemani pisang goreng. Not too special. Asiknya lebih karena dinginnya udara. Sampai di bukittinggi jam 2 kita check-in di sebuah hotel kecil (Parai) di pinggiran bukittinggi. Walau tak sedingin harapan, tapi cukup membuat menggigil saat mengambil air wudhu.
Tidur 3 jam dan seperti biasanya, Istri membangunkanku..(terima kasih ya Alloh). Nyenyak sekali tidur malam itu. Suasana pagi berkabut tebal, membuat pegunungan (bukit?) tertutup kabut. Dan membuat malas berkeliling mencari sunrise. (bodohnya, bukannya udah ada arah kiblat?) Paginya baru tersadar, sudah ada spot khusus untuk melihat sunrise di depan lahan parkir mobil (d’oh!). Kembali ke kamar mendapati Fredy masih pulas (seperti biasa). Berencana tidur lagi, meski mata sudah terbuka sempurna. Untuk hotel dengan rate kurang dari 200rb per malam, it’s quite ok lah..
Jam 10 pagi kami mulai perjalanan ke Maninjau (Nuansa Maninjau Resort to be exact). Tak sampai 1 jam kita sudah sampai di tempat tujuan dan kebingungan mau diapakan orang-orang ini, hotelnya baru bisa cek-in jam 12..beh.. Akhirnya dibuat games garing-garingan, menipu perut..
Resortnya lumayan saja, gak spesial, masih banyak detail yang terlewat (ie. telek cecak di kursi teras, kamar di Rayo yang pengap, mirip bunker). Secara belum pernah ada yang kesono ya wis lah..lagian itu yang terbaik disana. Kita pilih itu karena ada kolam renang, playground anak2, jadi pas lah buat family gathering.
Malamnya kekecewaan berlanjut, BBQ party by the pool sempat tertunda karena hujan, plus sang pemain organ tunggal outdated banget (dibandingkan player pekanbaru & batam sih..) Obos yang biasa lancar jaya menyanyikan top forty, kali ini kewalahan.. Pemain yang aneh.. Karena sampai beberapa lagu belum hangat juga, terpaksa dah…terajana dimainkan olehku..dan baru semua turun melantai, di tengah lagu mic ku oper ke yang lain dan aku pun memulai kegiatan default (kamerawan, sekalian nyolong adegan buat musicvideo). Tapi akhirnya situasi terus menghangat sampai bergulir waktu istirahat.
Keesokan paginya, kami sarapan dengan view danau Maninjau..cukup eksotis (kalau dari jauh). Setelah sarapan, kami turun ke danaunya, melalui kelok 44 (serius, ada yang membuat penomoran dari atas sampai tiba di bawah lho). Kelokannya cukup maut, sayang aku tidak berkesempatan mengabadikannya dengan baik, soalnya tidak ada kesempatan turun dari mobil (jalan cukup ramai dan tak ada spot untuk parkir, bisa menuhin jalan). Di tengah perjalanan berjejer beruk-beruk kecil yang berharap mendapat lemparan kacang dari orang yang lewat (well, ternyata mereka doyan juga kok keripik singkong).

Aku belum pernah ke danau Toba, jadi itulah pertama kali aku liat danau seluas itu. Berpagar bukit barisan, dan rumah-rumah penduduk di tepi-tepi danaunya, menyisakan hanya beberapa tempat yang bisa langsung menikmati danaunya (i.e. di depan PLTA). Setelah sampai PLTA, kami menaiki perahu mengelilingi pulau kecil (benar-benar kecil) di tengah danau. Makan siang di warung dekat situ (sebenarnya ada warung yang lebih representatif ke arah yang sedikit lebih jauh) dengan menu ikan bakar. Ikannya masih fresh, jadi rasanya cukup mak nyus didukung udara yang dingin.
Lepas makan siang, kami kembali ke atas. Meneruskan perjalanan pulang ke Pekanbaru melalui Bukit Tinggi. Bukit tinggi.. beh.. Kapan-kapan ingin rasanya bersama gogon s ke bukit tinggi.. there’re lots to explore!! jadi, kapan neh?

Yang ini pepes rinjuak (ikan-ikan lembut bet..). Ada juga makanan namanya Pensi (pentas seni?), ternyata mirip2 kerang gitu, di rebus dibumbui minyak gurih –only found in Maninjau.
Bukittinggi & otw pekanbaru photo session..
gelap kali abang kita ni..maklum abis berjemur di maninjau..
waktu keluar bukittinggi terlihat pelangi

waktu mau masuk payakumbuh, terlihat ujung pelanginya.. (macam iklan ponds aja pake bersambung segala). kalo lagi sama gogons, kynya bakal nyari ujungnya pelangi jatuh dimana tuh.. sapa tau ada bidadari lagi turun mandi..
waktu mau keluar payakumbuh, kita masuk ke resto terakhir yg udah jadi langganan. disitu gw nemu ada merk tivi yang gw inget banget waktu kecil gw itu ngetop abis.. model tivi item putih yang pake box kayu bergaya victorian.. yang punya seRT cuma tetangga sebelah rumah gw..

Sayangnya, meski judulnya family gathering, tapi kali ini aku tidak bersama familiku.. hiks.. hatiku cukup terwakili pohon ini.. dingin..
foto paling lucu (yang lucu laen sih ada, tapi gak enak lah)