man, a husband and a father of a daughter

July 4th, 2008 by ahdiardli

subhanalloh walhamdulillah..akhirnya lengkap sudah.

sejak ahad lalu Alya & Bundanya berada di pekanbaru. setiap hari bisa melihat Alya bangun tidur. Ritual bangun tidurnya selalu sama. Diawali dengan sedikit merengek. Tapi setelah kedua matanya terbuka, sebuah senyuman indah selalu ada di bibir mungilnya.. duh..

Hari Selasa, saat ku pulang sore, Alya sudah stand by di depan pintu di atas strollernya berbalut baju serba pink. Dengan mata berbinar melihat ayahnya pulang..

Hari Kamis, dia sudah berbaju muslim lengkap saat ayahnya masuk halaman rumah.. Setelah ayahnya mandi, berceritalah Alya dengan penuh semangat tentang kegiatannya seharian (well at least itu persepsiku.. hehe)

jadi, bagi kalian yang belum punya junior..semoga bisa turut berbahagia :)
kalo yg belum nikah ya..
buruan lah :)

3 days. 3 nights. 1 pants

April 4th, 2008 by ahdiardli

awalnya aku gak pengen nulis ini. tapi sebagai pengingat, aku tulis saja lah.

malam itu rabu malam kamis, 11.30 malam. aku tiba di rumah, ku buka pagar, kumasukkan mobil ke halaman. (gaya kali..pakai mobil..padahal pinjeman kawan yang lagi ke surabaya..). setelah dari pagi jemput bos di airport dan menemaninya memeriksa kerjaan gw, sampai ngeband and dinner. kututup kembali pagar. ku berjalan menuju pintu rumahku. kurogoh saku celana, tak ada. kurogoh di saku baju seragamku, tak ada pula. kuulangi lagi step pertama. tetap tak ada. oh, kucoba di tasku. tak ada pula. lalu…

damn suradamn. yang keluar terakhir dari rumah adalah si fredy. kuambil navigatorku, fredy is on the line. "Fred, kunci gw dimane?" "Lah, Bang! Masih ama gw nih!" "Lu dimane malih?" "Dumai. Waduh, gimana yak? Besok dah gw titip transporter yang kesini." "Ya dah"
perjuangan pertama. kubuka lagi pagar, kulaju ke rumah empunya rumah. alhamdulillah, sepertinya mereka jg baru sampai rumah. "assalamu’alaikum bu, bapaknya ada?" "ada, mari masuk." "pak, ada kunci serep gak ya?" "gak ada mas." tapi teteup si bapak ngajakin ngobrol..secara udah hampir jam 12 malem, mata ini pun tak kuasa lagi rasanya. "tidur sini aja mas." "wah, ndak usah pak, terima kasih, saya tidur kantor aja." sambil ku sms pak Rajak, boy officer di kantorku (secara kunci kantor gw taruh di atas kulkas di rumah). sampai teh dihidangkan, belum ada balasan dari pak Rajak. "ya sudah pak, pamit dulu, sudah malam sekali".

perjuangan kedua. rumah empunya rumah hanya beberapa blok dari rumahku, jadi masih kuat lah aku nyetir ke tempatnya. karena tak ada jawaban juga dari boy officerku, aku mencoba ke hotel melati di sekitar situ. tapi tunggu. kupinggirkan mobil. kuperiksa dompet, hanya 20ribuan rupiah. tak cukup nih, hotelnya 80rb. sambil ku sms kawanku terdekat. "brur, udah tidur?" kulaju mobil ke riau pos, ada atm mandiri disana. aku tak mau menyetir terlalu jauh, too risky. kumasuki atm dengan pasti. LOADING…. walah, apa lagi nih. "mas, kok gini ya." "tunggu aja mas." MAAF, ATM INI TIDAK DAPAT DIPERGUNAKAN bla bla bla…

perjuangan ketiga. kulaju lagi mobilku. tak ada sms balasan apapun. aku masuk ke pelataran parkir hotel melati itu. hotel mesum tak apa lah. aku butuh tidur yang cukup malam ini. di resepsionis, sang resepsion boy sedang memandang penuh curiga ke seorang wanita yang akan check in. "aku mau bertamu, tapi kemalaman, makanya aku nginap." segitunya.. satu lagi tamu, lelaki, sepertinya sudah selesai check in, keluar ke sedannya. kok aneh, abis cek in kok malah keluar. "mas, disini pembayaran apa bisa selain tunai? pakai kredit kard atau debit card gitu?" "gak bisa mas." yeah.. right. aku keluar lagi, menuju mobil. bengong di mobil. lelaki yang selesai cek in tadi keluar dari sedannya, diikuti seorang wanita, memasuki hotel. pasti istrinya.

perjuangan keempat. masih di parkiran hotel. aku sms kawanku yang lumayan jauh, tapi masih kuat lah aku kesana. "bang, wis turu?" 10 menit tanpa jawaban. sepanjang perjalananku melalui jalan subrantas ini, ada 3 masjid yang semuanya tertutup rapat (1 tanpa pagar, tapi pintunya tertutup, lampu mati pula; 1 dengan pagar tertutup rapat; 1 masjid pesantren yang kompleks masuknya tertutup rapat pula). aku ingin sholat isya’, mengadu pada Alloh. menangis? jadi aku balik arah, kembali ke arah kompleks rumahku. di depan gang ada masjid (masjid pertama, yang tanpa pagar). memang pintu terkunci, tapi paling tidak aku bisa ambil wudhu dan sholat di terasnya. tapi ternyata tidak. masjid kompleksku telah selesai direnovasi sedemikian rupa sehingga akses ke tempat wudhu terkunci rapat selepas jamaah isya bubar. ya Alloh, haruskah aku tayamum?

menyerah. akhirnya kulandaikan driver seat, mencoba tidur. sholat isya akan kulakukan saat masjid dibuka sebelum subuh. ternyata driver seat memang tidak didesain untuk tidur. setelah entah berapa lama, aku menyerah, pindah ke jok tengah. menekuk2 kakiku. bismika allohumma ahya wa amut. tertidur lah aku. aku terbangun saat titik-titik air membasahi kakiku melalui jendela kaca yang sedikit kubuka. kubiarkan saja. biarlah sebagai penanda bahwa aku masih bisa merasa. kucari hapeku, kunyalakan, jam 3 pagi. masih 2 jam lagi sebelum subuh tiba dan aku harus bangun sebelum adzan subuh berkumandang. tidak sulit. karena setiap beberapa saat pasti aku terbangun karena kaki yang pegal karena posisi tak enak kelamaan.

alhamdulillah. aku tersadar saat cahaya2 masjid mulai menyala. kubangun, masuk masjid, dan setelah wudhu kutunaikan isya’ku yang terlambat. di rakaat ketiga, muadzin menunaikan tugasnya. ah, tak mengapa. kulanjutkan saja.

ba’da subuh, aku kembali ke mobil, bermalas2an tidak pada tempatnya. dan tak lama, kawanku yang pertama sms. langsung aku menuju rumahnya untuk mandi dan pinjam baju seragamnya. hanya kemeja, sedangkan celana tetap kupakai yang kemarin kupakai. setelah sarapan, aku kembali ke hotel untuk menjemput bosku untuk kemudian ke kantor. memulai hari baru. (dengan celana kemarin). sungguh hari yang panjang..tapi tak ada yang perlu disesali, karena tak ada guna (macam lagunya kusplus bukan?)

dan aku selesai menulis blog ini di jumat malam, 1120PM. malam ketiga aku memakai celana yang sama. entah kapan kunci itu kan datang….

Stephen Chow vs. Habiburrahman Shirazy/Hanung Bramantyo

March 4th, 2008 by ahdiardli

CJ7 vs AAdC
Gila ya, sehari setelah premiere Ayat-Ayat dCinta (AAdC) udah pada punya softcopynya. Yah, meskipun masih versi editing akhir dan tanpa end credit title (except just the text "END CREDIT") tapi gak akan mengurangi cerita dan cara bercerita dari tu film. Padahal film indonesia agak2 lama biasanya bajakannya keluar. Tapi ini udah keluar dg kualitas yg cukup untuk sebuah bajakan (wink). Kayaknya Hanung kecolongan sama orang editingnya nih..

Seminggu sebelumnya, di bali gw beli DVD bajakan CJ7, film terbarunya sutradara, penulis cerita dan aktor (idola) gw, Stephen Chow. Nah, biasanya film Hongkong lebih cepat keluar DVD bajakan versi ori-nya, tapi kali ini tidak sesuai harapan. Kayaknya makin canggih aja camcorder2 jaman sekarang, sehingga dvd bajakan versi syuting bioskop jadi lebih baik gambarnya daripada jaman dulu, even daripada VCD. Tapi masih bisa dinikmati lah..

Ekspektasi
Kalo Hanung sering bilang dimana-mana, jangan bandingin filmnya dengan novelnya. Emang harus gitu sih, biar gak terlalu berharap. Di novel/buku, kita dengan bebas menginterpretasi apa yang ditulis penulis. Lazimnya, orang yang membaca novel akan tertarik menonton filmnya meski tidak berlaku sebaliknya. Disinilah letak vulnerability film saduran buku/novel. Gw dulu "terpaksa" baca Ayat-Ayat Cinta gara2 sohib gw ada yg ngasih tuh novel ke teman wanitanya (so?). Di tengah kepahitan kepraktisan dunia (halah), baca tu novel macam mimpi aja. Tapi kan terserah si penulis.. (makanya, nulis dong!! dan makanya gw nulis blog ini.. terserah gw mo nulis apaan, hehe)

Layaknya film Stephen Chow sebelumnya, pasti ada adegan "lebay" disana-sini tanpa akhir (yang kalo Adi nonton bareng Gogons pasti bengong doang sedangkan Gogons cekakakan). Tapi pas liat poster CJ7 dan sinopsisnya di imdb, gw jadi lebih penasaran karena ada karakter anak kecil dan alien.

Kenyataan (perasaan?)
Tanpa mengurangi hormat pada penulis, sutradara dan ibu-ibu pengajian yang katanya berbondong-bondong menonton AAdC, gw jauh lebih suka CJ7.

Casting: Aisyah di benakku adalah gadis Jerman-Turki yang tinggi besar. In fact, casting yang pas (secara bodi) rasanya cuma Maria, Ibunya, Bahadur, Nurul (meski bajunya gak konsisten, kadang gombrong kadang ngepres) Keluarga Pakdenya Nurul, Keluarga Fahri. Fahri boleh lah, secara cukup dapet wajah culun anak kampung yg mahasiswa (apa mahasiswa yang anak kampung?). Lalu Syaikh Ustman..kok mirip pakde dari boyolali yo?

Casting anak kecil di CJ7 pas banget, inosen-nya dapet, baik si pemeran utama, maupun kawan-kawannya yang tengil. Ibu guru yang cantik (kalo ini mah Stephen Chow banget, narik yang cakep2 buat pemanis.. persis ky yg di Kungfu Hustle, meski sekedar pelengkap pemanis penderita).

Akting & Syuting: beh.. gw ngomentarin akting? akting gw di dua videoklip aja sucks.. jadi, tau apa gw coba.. Tapi yang jelas gw terganggu dengan dual language di AAdC. Sekali orang arab, tetap orang arab! Lha ini kok satu kalimat jadi arab, berikutnya jadi orang betawi (coba perhatikan logat Maria waktu benerin PC Fahri), dan berikutnya jadi agak jawa (waktu nitip beli CD). Belum lagi, pengucapan bahasa arab yang di beberapa scene pake intonasi indonesia ("hadzihii fitnah.. hadzihii fitnah"). Memang wajar bila yg ngucapin si Fahri (meski seharusnya udh beberapa taun pula di Mesir), tapi kalo karakter yg seharusnya native arab..jadi aneh kali.
Satu-satunya hal yang matching ama benakku tentang Aisyah di film itu cuma alis n matanya aja. Sisanya? Bodi yang mungil dan suara yang (kalo kata mas tukul) jadi pengen ke belakang..(ngapain mas tukuul..). Gak masalah sih suaranya gitu, tapi kalo udah nikah. Lha kalo belun nikah tapi ngomongnya udh gitu? Beh..mas tukuuulll.. Gw rasa Ida Iasha bakal pas tuh jadi aisyah (di jamannya.. hehe).
Keindahan Mesir & al Azhar juga kurang terekspos. Seharusnya waktu adegan malam pertama pun, ada scene penampakan Mesir diwaktu malam diliat dari flat Aisyah.. Gw kebayang al Azhar tuh lebih keren dari kampus gw, tapi ini kok lebih mirip pesantren (atau madrasah ibtidaiyah ya?) daripada kampus.. gw sih gak tau yg sbenernya gimana juga, hehe.. Storytellingnya menurut gw (karena udh baca novelnya) macam comot sana comot sini, sedikit halaman sekian, skip ke halaman sekian. Jadi agak capek liatnya, padahal durasinya cukup lama juga lho..

Kalo CJ7, beh..muke inosen si tokoh utama anak kecil sungguh luar biasa..(blooper) gw paling terharu waktu anak tu cerita cita2nya..halah.. udin banget..ceritanya so sweet.lain sama sekali dengan kungfu hustle maupun shaolin soccer, mesti beberapa adegan inspired by those movies tetep ada (adegan tapak budha jg ada lho). Frankly, I’m surprised Stephen Chow bisa buat cerita macam tu, tanpa meninggalkan signature-nya. Cara berceritanya manis banget, runut dan hanya sedikit adegan bertele-tele. Tiap adegan ada makna..beh..lebay deh..

Kesan
Well, tadi ada yang bilang Ustadz Ahmad Al Habsyi nonton AAdC dan menangis..(gw yakin udin jg pasti nangis, atau gak ya?). Gw yakin pasti ada segerombol ibu-ibu pengajian, pasangan2 yang baru menikah yang bakal nonton tu film, nangis bareng2 keluar dari bioskop..aiih..

Dan ada pula segerombol anak2 muda fanatik Stephen Chow yang nonton CJ7 dan keluar bioskop dengan tersenyum penuh arti.

Lu pilih mana?

Pekanbaru - Bukittinggi - Maninjau [a short trip]

January 23rd, 2008 by ahdiardli

Salah satu tips menikmati sebuah perjalanan baru adalah dengan melupakan pengalaman perjalanan-perjalanan lainnya. (karena kali ini ngomong perjalanan, jadi aku gak akan menyambungkan kalimat pertama dengan konteks relationship/komitmen/pernikahan atau apapun. ntar jadi panjang ceritanya kawan..)

Perjalanan baru persis seperti cerita baru dimana kita sendiri yang menjadi bintang utama, penulis skenario, pengarah gaya, kamerawan, storyboard, sutradara, editor (ah berlebihan..kalo ini mah curhat bikin videoklip–doakan berhasil jadi sebuah videoklip, apapun bentuknya–alhamdulillah udah jadi, baca blog sebelumnya)

Perjalanan 2 malam 3 hari ini dimulai dari Pekanbaru, 20.00wib. Konvoi 9 mobil mengangkut sekitar 60an dewasa dan anak-anak. Kami mampir di BandrekHouse (sayang gak ambil gambarnya), sebelum masuk Payakumbuh (payakumbuah?) sekitar dini hari. Seharusnya dari sana terlihat malaka, tapi ya karena jam segitu, tak terlihat olehku. Bandrek Telur (talua) menjadi pilihanku, ditemani pisang goreng. Not too special. Asiknya lebih karena dinginnya udara. Sampai di bukittinggi jam 2 kita check-in di sebuah hotel kecil (Parai) di pinggiran bukittinggi. Walau tak sedingin harapan, tapi cukup membuat menggigil saat mengambil air wudhu.

Parai_bukittinggi0_1   Parai_bukittinggi1_1

Tidur 3 jam dan seperti biasanya, Istri membangunkanku..(terima kasih ya Alloh). Nyenyak sekali tidur malam itu. Suasana pagi berkabut tebal, membuat pegunungan (bukit?) tertutup kabut. Dan membuat malas berkeliling mencari sunrise. (bodohnya, bukannya udah ada arah kiblat?) Paginya baru tersadar, sudah ada spot khusus untuk melihat sunrise di depan lahan parkir mobil (d’oh!). Kembali ke kamar mendapati Fredy masih pulas (seperti biasa). Berencana tidur lagi, meski mata sudah terbuka sempurna. Untuk hotel dengan rate kurang dari 200rb per malam, it’s quite ok lah..

Parai_bukittinggi2_1 Jam 10 pagi kami mulai perjalanan ke Maninjau (Nuansa Maninjau Resort to be exact). Tak sampai 1 jam kita sudah sampai di tempat tujuan dan kebingungan mau diapakan orang-orang ini, hotelnya baru bisa cek-in jam 12..beh.. Akhirnya dibuat games garing-garingan, menipu perut..

Otw1_3

Resortnya lumayan saja, gak spesial, masih banyak detail yang terlewat (ie. telek cecak di kursi teras, kamar di Rayo yang pengap, mirip bunker). Secara belum pernah ada yang kesono ya wis lah..lagian itu yang terbaik disana. Kita pilih itu karena ada kolam renang, playground anak2, jadi pas lah buat family gathering.
Malamnya kekecewaan berlanjut, BBQ party by the pool sempat tertunda karena hujan, plus sang pemain organ tunggal outdated banget (dibandingkan player pekanbaru & batam sih..) Obos yang biasa lancar jaya menyanyikan top forty, kali ini kewalahan.. Pemain yang aneh.. Karena sampai beberapa lagu belum hangat juga, terpaksa dah…terajana dimainkan olehku..dan baru semua turun melantai, di tengah lagu mic ku oper ke yang lain dan aku pun memulai kegiatan default (kamerawan, sekalian nyolong adegan buat musicvideo). Tapi akhirnya situasi terus menghangat sampai bergulir waktu istirahat.

Nuansa0
Keesokan paginya, kami sarapan dengan view danau Maninjau..cukup eksotis (kalau dari jauh). Setelah sarapan, kami turun ke danaunya, melalui kelok 44 (serius, ada yang membuat penomoran dari atas sampai tiba di bawah lho). Kelokannya cukup maut, sayang aku tidak berkesempatan mengabadikannya dengan baik, soalnya tidak ada kesempatan turun dari mobil (jalan cukup ramai dan tak ada spot untuk parkir, bisa menuhin jalan). Di tengah perjalanan berjejer beruk-beruk kecil yang berharap mendapat lemparan kacang dari orang yang lewat (well, ternyata mereka doyan juga kok keripik singkong).

Otw2_1
Aku belum pernah ke danau Toba, jadi itulah pertama kali aku  liat danau seluas itu. Berpagar bukit barisan, dan rumah-rumah penduduk di tepi-tepi danaunya, menyisakan hanya beberapa tempat yang bisa langsung menikmati danaunya (i.e. di depan PLTA). Setelah sampai PLTA, kami menaiki perahu mengelilingi pulau kecil (benar-benar kecil) di tengah danau. Makan siang di warung dekat situ (sebenarnya ada warung yang lebih representatif ke arah yang sedikit lebih jauh) dengan menu ikan bakar. Ikannya masih fresh, jadi rasanya cukup mak nyus didukung udara yang dingin.

Maninjau2 Maninjau1
Lepas makan siang, kami kembali ke atas. Meneruskan perjalanan pulang ke Pekanbaru melalui Bukit Tinggi. Bukit tinggi.. beh.. Kapan-kapan ingin rasanya bersama gogon s ke bukit tinggi.. there’re lots to explore!! jadi, kapan neh?

Maninjau0

Yang ini pepes rinjuak (ikan-ikan lembut bet..). Ada juga makanan namanya Pensi (pentas seni?), ternyata mirip2 kerang gitu, di rebus dibumbui minyak gurih –only found in Maninjau.

Bukittinggi & otw pekanbaru photo session..

Bukittinggi0 Bukittinggi2 gelap kali abang kita ni..maklum abis berjemur di maninjau..

Bukittinggi1

waktu keluar bukittinggi terlihat pelangi

Bukittinggi3

waktu mau masuk payakumbuh, terlihat ujung pelanginya.. (macam iklan ponds aja pake bersambung segala). kalo lagi sama gogons, kynya bakal nyari ujungnya pelangi jatuh dimana tuh.. sapa tau ada bidadari lagi turun mandi..

Bukittinggi4 waktu mau keluar payakumbuh, kita masuk ke resto terakhir yg udah jadi langganan. disitu gw nemu ada merk tivi yang gw inget banget waktu kecil gw itu ngetop abis.. model tivi item putih yang pake box kayu bergaya victorian.. yang punya seRT cuma tetangga sebelah rumah gw..

Bukittinggi5  Bukittinggi6

Sayangnya, meski judulnya family gathering, tapi kali ini aku tidak bersama familiku.. hiks.. hatiku cukup terwakili pohon ini.. dingin..

Lonely_1

foto paling lucu (yang lucu laen sih ada, tapi gak enak lah)

Lucunya_1

Jadi Juga

January 21st, 2008 by ahdiardli

Bukan, istriku belum lahiran kok.. Ini "jadi" yang lain. Setelah beberapa hari hampir frustasi. Kebodohan yang sungguh membuat frustasi. Hampir saja bunuh diri, eh, beli capture card maksudnya. Bagaimana tidak, setelah sebelumnya bisa dengan mudah mentransfer hasil syuting dari camcorder ke notebook, kali ini perlu berhari-hari sehingga akhirnya bisa melakukannya (dengan gratis). Masak untuk hal sesederhana itu harus menunggu 4 hari bila dilakukan di studio? Absurd.

Kali ini proyeknya adalah membuat video musik untuk dilombakan di acara tahunan di Bali nanti akhir Februari. Ditambah pula Sales Manajer memintaku jadi project leadernya. Dengan target cukup menantang, "Masuk nominasi saja Yar". Beh.. Jadilah sang project leader merangkap scriptwriter, storyboard artist, kamerawan (tanpa lighting), prop (tanpa make up), figuran/special appearance, editor sekaligus sutradara.

Kisahnya ada dua cerita yang ku buat skenario sekaligus storyboardnya. Kisah pertama sekedar iseng-iseng, just for fun dengan pesan singkat (hanya: "Indah pada Akhirnya"). Kisah kedua awalnya sangat serius, dengan pesan yang berat (lagu yang dipakai saja "If Tomorrow Never Comes" versi Joose, bukan yang mas Keating–lebih ‘biru’ versi Joose, red). Lagu untuk kisah pertama memakai lagunya mas Once, "Kucinta Kau Apa Adanya" a.k.a "Aku Mau" a.k.a "Untitled".

Kisah pertama bercerita tentang kesiapan seseorang mengorbankan segalanya demi cinta (sebenarnya tidak sebegitunya..), dalam bahasa praktisnya, bercerita tentang trainee yang siap berkorban agar lulus masa training (see? sederhana kan?). Sayangnya, konsep awal yang ingin bergaya StephenChownisme terbentur pada kurangnya aktor (kurang all-out, masak aktor gak mau kecipratan lumpur? huehehe –jumlah aktor jg kurang sih), kurangnya properti (awalnya mau syuting di bandara segala lho). Sampai saat aku menulis blog ini, kisah pertama ini masih belum ku edit di premiere.

Kisah kedua lebih diinspirasikan oleh lagunya. Standar dan dibuat sederhana saja alurnya. Bercerita tentang 2 orang sukses yang akhirnya meninggalkan semuanya yang bisa berbagi untuknya. Meski awalnya serius, tapi akhirnya kusisipkan beberapa adegan lucu-lucuan (lebih ke garing kali ya). Baru saja berhasil kuselesaikan rendernya. Perlu hampir 1.5 jam untuk render ke format avi, padahal durasinya hanya 4 menit dan 6 detik. Karena belum aku konversi ke file yang lebih bersahabat ukurannya, jadi aku belum upload ke dunia maya nih. Tunggu saja update blog ini.

Paling tidak satu karya lagi sudah jadi. Tinggal mengarang lagu dan novel saja yang belum kesampaian nich. Next?

Counting Down..

December 30th, 2007 by ahdiardli

12 jam dan 2 menit lagi menuju tahun baru 2008. Menutup tahun dengan segala keberhasilan dan kegagalan. Trying is the first step to Failure.. hehe.. Itu kata bokapnya Bart (what a loser..).

Untungnya Raqib dan ‘Atid tidak pake istilah monthly closing or year-end closing or whatsoever. Hal ini bisa jadi 2 hal. Yang pertama, santai aja Sob, toh kita gak ada closing. Yang kedua, mesti waspada setiap saat karena bisa aja dilakukan closing setiap saat tanpa kita duga.

Sadar dalam Santai, atau Santai dalam Kesadaran? Ya apalah, yang penting jangan hilang kesadaran (ntar malah gilu le, eh, gile lu), ataupun hilang kesantaian (apa bahasa indonesia untuk ‘njekutrut’ & ‘pethenthengan’ ya? gitu dah pokoknya).

Setiap kita punya momen kita sendiri, saat tersadar, dan saat lalai (this’s why we need others, bro). Seperti kata kak Rhoma, "cukup satu kali kehilangan tongkat..cukup satu kali.." (otomatis pake gerakan badan & gitar dongs). Jadi, orang bodoh makes the same mistakes again and again. Sedangkan orang pintar? Pastinya minum tolak angin dong.

Udah ah, closing dulu..

Kelapa2_1

Gak Penting

December 2nd, 2007 by ahdiardli

Ada dua jenis film, pertama, film yang layak tonton, dan kedua, film yang tidak layak tonton. Ahad kemarin, setelah menggasak seporsi sop tunjang dengan buas, aku dan Syarif (anak trainee) meluncur ke sinema. As I expected, gerbang mal sudah ditutup untuk mobil (happens all the time, eh, at least on weekends.. jadi inget di Samarinda ada SCP a.k.a. Susah Cari Parkir a.k.a Samarinda Central Plaza). Thanks to abang-abang yang selalu jeli melihat peluang dalam kesempitan, tepat sebelah gerbang mal, sudah disiapkan parkir darurat.

As I expected too, sinema sudah penuh dan antrian di loket cukup panjang. Rata-rata sih ABG, dan tebakanku mereka mengantri 2 film nasional. Satunya yang ingin kutonton, dan satunya yang tidak layak aku tonton (film dengan konsep contekan plesetan, sampe ke judul-judulnya). Tapi sebuah kelayakan membutuhkan pengujian, jadi apa salahnya mencoba. Film yang rencananya kutonton, ternyata menyisakan 3 baris kursi terdepan, dan 2 kursi di samping gang, tapi di baris yang berbeda. It’s ok lah..

Film yang ingin kutonton diklaim sebagai film komedi dewasa yang menceritakan kehidupan gigolo. Tidak berharap terlalu banyak, karena toh ini film komedi. Tapi yang akhirnya mengganggu adalah kenyataan bahwa filter kedewasaan sudah mulai longgar. Entahlah, mungkin karena mudaku (baca: masa sebelum dewasaku, komen: emang sekarang udah dewasa gitu?!) tak terbiasa dengan hidangan semacam film itu. Bila sang produser film mengklaim filmnya untuk dewasa, seharusnya.. ah, lupakan.

Tapi yang selalu menyebalkan setiap kali ke sinema adalah cahaya-cahaya gak penting yang menyembul di kursi-kursi sekitarku. Iya, orang-orang dengan hape yang norak membuka sms, menjawabnya, apalagi yang menerima panggilan dan menjawabnya. Biasanya kalau sudah sampe gitu, dehem-an keluar dari mulutku. Kalau gak nyadar juga, biasanya ada popcorn yang melayang (itupun kalo pas ada popcorn).

Kesimpulannya sih (lho kok udah kesimpulan aja, wong belum cerita banyak tentang filmya), film itu biasa saja (ya iyalah, emang gak banyak yang bisa diceritakan juga kok, masih ada slapstick, kekerasan gak perlu, hal-hal gak logis yang nanggung). Standar. Layak tonton, meski minim pesan (film komedi kok diharapkan menyisipkan –sarat– pesan..). Just for fun. Apalagi kalau pengen nostalgia liat ekspresi Cinta waktu Rangga berterima kasih atas buku yang telah dikembalikannya. alaaaaahhh…

Ditembak (when you least expected it)

November 29th, 2007 by ahdiardli

_mg_4546a_1

Aku langsung berlari merunduk cepat menuju tong itu. Tempat sempurna menyembunyikan diri. Sempurna pula untuk mengamati. Bisa langsung aku lihat 3 sasaran empuk menunggu tanpa sadar untuk kuhabisi. Buzz! Meleset. Untungnya sang calon korban sama sekali tak sadar bahwa aku meleset (sungguh melegakan). Tembakan kedua. Jdutt! Tepat di atas telinganya.

Sebagian besar hatiku merasa sangat bersalah dan memaksa tanganku melambai kepadanya. Mencoba meminta maaf atas apa yang telah kulakukan. Tapi apa artinya meminta maaf pada yang telah tiada. Seharusnya tadi sebelum mengenainya, aku meminta maaf terlebih dahulu. Absurd.

Jdut! Satu kepala lagi. Satu lambaian tangan permintaan maaf tak berguna lainnya dariku. Jdut! Kali ini di pundak. Dan sepertinya dia tidak sadar telah tertembak, sehingga dia pun masih terus menembak, meski bukan ke arahku. Terpaksa harus meminta bantuan. Game Paused. (Perang kok bisa di-pause). "Mas, yang itu udah ketembak mas. Tolong dicek". "Belum kok". "Coba liat pundaknya mas". "Oh iya, kena". Akhirnya sang korban dievakuasi keluar.

Kemenangan itu tinggal 3 meter lagi didekatku. Tinggal ku berlari ngawur, mencabut bendera dan lari ngawur lagi ke base. Tapi kurang asik. Lebih baik membunuhi musuhku satu per satu. Aku menunggu konfrontasi lain, agar bisa menyelinap ke belakang musuh.

PLETAK! Lha, apa ini, kok aku ketembak di kepala, dari arah belakang pula, dari arah dimana teman-temanku berada. Mungkinkah mereka telah semua tertembak? "Woi, kena lu!" "Iya iya, gw kena." Terpaksa mengangkat tangan berjalan gontai menuju keluar medan perang. Tapi ada yang aneh. Para penonton perang malah tertawa terbahak-bahak. Apa lagi nih..

Penembakku tak lama kemudian juga tertembak, dan terpaksa digiring keluar. Barulah kusadari, aku baru ditembak temanku sendiri.

_mg_4492a

Inilah Mengapa

October 31st, 2007 by ahdiardli

Dari Abu Hamid as Sa’idi , ia berkata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengangkat salah seorang dari suku Azad sebagai petugas yang mengambil zakat Bani Sulaim. Orang memanggilnya dengan ‘Ibnul Lutbiah. Ketika datang, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengaudit hasil zakat yang dikumpulkannya.

Ia (orang tersebut, Red) berkata,”Ini harta kalian, dan ini hadiah,” Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah atau ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu?”

Lalu beliau berkhutbah, memanjatkan pujian kepada Allah azza wa jalla , lalu beliau bersabda : “Aku telah tugaskan seseorang dari kalian sebuah pekerjaan yang Allah azza wa Jalla telah pertanggungjawabkan kepadaku, lalu ia datang dan berkata “yang ini harta kalian, sedangkan yang ini hadiah untukku”. Jika dia benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, kalau benar hadiah itu mendatanginya.

Demi Allah , tidak boleh salah seorang kalian mengambilnya tanpa hak, kecuali dia bertemu dengan Allah dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,” lalu beliau mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya, dan berkata: “Ya Allah, telah aku sampaikan,” (rawi berkata),”Aku Lihat langsung dengan kedua mataku, dan aku dengar dengan kedua telingaku.” (HR Bukhari, 6979 dan Mustim, 1832).

well, u know the rest

Mudik

October 2nd, 2007 by ahdiardli

Rutinitas yang telah kulalui sejak 1996. Meski demikian, rasanya tidak pernah berubah sejak waktu itu. Ada jerawat yang menggunung di hari2 sebelum keberangkatan dan sembuh seketika saat tiba, ada wajah gembira karena bisa memberi sedikit uang lebaran pada bunda, ada kerinduan, ada mata yang berkaca-kaca saat berjumpa, ada bau tak sedap setelah perjalanan jauh meski tak menghalau sebuah pelukan (bahkan ciuman).

Sekedar pengen tahu saja, gimana rasanya gak mudik ya. Mungkin jerawat masih ada, air mata apalagi. Kalo kata film kan, hal yang paling menyedihkan dari kesendirian bukannya waktu sedih trus gak ada yang menemani, tapi di saat-saat kita bahagia dan tak ada tempat berbagi. Alhamdulillah, gw belum pernah gak pulang kalau lebaran (dengan segala perjuangan lazimnya perjalanan).

Tapi ada hal baru yang gw dapet semalam. Ustadz yang ngisi kajian ba’da tarawih (yang bertepatan dengan pembukaan i’tikaf di masjid UNRI) berpanjang lebar menceritakan tentang i’tikaf. Panitia saja memfasilitasi mutakifin yang gak full sampe malam takbiran, pastinya karena pulang kampung. Nah si ustadz lalu bertanya pada jamaah masjid, "Dimana sebenarnya kampung kita?"

Beh, pertanyaan yang sama sekali baru buat gw. Belum pernah ada yang nanya ke gw tentang hal ini. Hadirin juga pada gak bisa jawab. Lalu ustadz bilang bahwa kampung kita sebenarnya adalah kampung akhirat. Beberapa hadirin tertawa, tersenyum. Mungkin tersindir, atau justru mengejek konsep ‘baru’ ini (mungkin di benaknya: "Get real, man!!").

Kalo di nasyidnya Izzis kalo gak salah (atau SP yak?) pernah ada frase kampung akhirat ini. Trus gw langsung search aja kata "kampung akhirat" di program Quran di hape gw (kalo ada yg mau programnya PM gw aje). Eh, beneran, at least ada 5 ayat yang menyebut frase kampung akhirat. Poinnya adalah bahwa bagi orang-orang yang bertaqwa, kampung akhirat adalah sebaik-baik tempat kembali.

Beh.. gimana dongs! Misi mulia puasa (Ramadhan) supaya bikin kita jadi bertaqwa, dikaitkan dengan sebaik-baik mudik ini.. Siap gak elo?!! (I’tikaf aje setengah hari setengah hati…)